Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Tukang Roti Ahli Istighfar

Kisah Imam Ahmad dan Tukang Roti Ahli Istighfar

Imam Ahmad bin Hanbal, dikenal juga sebagai Imam Hambali, ulama besar yang merupakan pendiri Madzab Hanbali dan murid Imam Syafi'i mempunyai kisah menarik bertemu dengan seorang penjual (tukang) roti yang merindukannya. 

Di masa akhir hidup beliau ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak.

"Suatu ketika (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak (Bashrah)"

Padahal tidak ada janji dengan orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam kelahiran Baghdad tahun 164 Hijriyah itu berangkat sendiri menuju Kota Bashrah. 

Imam Ahmad Diusir Marbot Masjid

Dalam manaqibnya, beliau bercerita, "Pas tiba di sana waktu Isya', saya ikut salat berjamaah isya di masjid."

Setelah selesai salat dan jamaah bubar, Imam Hambali merasa hatinya tenang dan kemudian beristirahat. Tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya "Kenapa syeikh, mau ngapain di sini?". 

Kata Syeikh biasanya dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk panggilan orang tua, orang kaya ataupun orang alim (berilmu).

Panggilan Syeikh dalam kisah ini adalah panggilan sebagai orang tua, karena sang marbot tidak mengenal Imam Ahmad, dia melihat beliau hanya sebagai sebagai orang tua yang layak dihormati. 

Marbot tidak tahu kalau orang yang ditanya adalah ulama ahli fikih dan hadis, Imam Ahmad bin Hambal. Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. 

Padahal, sosok Imam Ahmad di Irak sangat populer, semua orang kenal beliau, seorang ulama zuhud ahli hadis dan hapal sejuta hadis. Pada zaman itu memang tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad kemudian berkata: "Saya ingin istirahat, saya musafir". Sang marbot menanggapi, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid".

Imam Ahmad lalu didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid.

Imam Ahmad kemudian bermaksud tidur di teras masjid. Namun, ketika sudah berbaring di teras masjid marbot datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad.

"Mau ngapain lagi syeikh?" Kata marbot. "Mau tidur, saya musafir," kata Imam Ahmad. Lalu marbot berkata, "Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh". 

Imam Ahmad pun diusir dengan didorong-dorong sampai jalanan.

Imam Ahmad Bertemu Tukang Roti

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual jual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot masjid.

Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh: "Mari syeikh, anda boleh menginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil". 

Kata imam Ahmad "baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapakah dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Kebiasan Istighfar Tukang Roti

Penjual roti ini mempunyai perilaku unik, jika Imam Ahmad mengajak berbicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, "Astaghfirullah".

Saat meletakkan garam Astaghfirullah, memecahkan telur Astaghfirullah, campur gandum Astaghfirullah. Tukang roti ini selalu melafalkan istighfar. Sebuah kebiasaan yang mulia itu pun menarik perhatian Imam Ahmad.

Lalu Imam Ahmad bertanya: "Sudah berapa lama kamu melakukan ini?". Orang itu menjawab: "Sudah lama sekali syeikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan".

Imam Ahmad bertanya "Ma tsamarotu fi'luk?" "apa hasil dari perbuatanmu ini?"

Tukang roti itu menjawab "(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung diterima".

Lalu orang itu melanjutkan: "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan"

Imam Ahmad penasaran dan bertanya: "Apa itu?". Kata orang itu "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad".

Mendengar itu, seketika itu Imam Ahmad langsung bertakbir: "Allahu Akbar". Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan ternyata berkat istighfarmu".

Penjual roti itu pun terperanjat seraya memuji kebesaran Allah. Dia tak menyangka kalau orangtua yang diajaknya menginap di tempatnya adalah seorang ulama besar yang dirindukannya.

Demikian kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan istighfar tukang roti yang penuh hikmah. Semoga bermanfaat

Posting Komentar untuk "Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Tukang Roti Ahli Istighfar"

Berlangganan via Email