Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Cara Mengatur Keuangan Keluarga Saat Ramadhan di Tengah Wabah Corona

Cara Mengatur Keuangan Keluarga Saat Ramadhan di Tengah Wabah Corona
Bagaimana cara mengatur keuangan keluarga saat ramadhan di tengah pandemi corona saat ini? mengingat keuangan merupakan hal yang sensitif dalam sebuah keluarga dengan berbagai status. Bisa menguatkan, bisa juga melemahkan. Salah satu kunci yang dapat menguatkan adalah literasi tentang prioritas keuangan, terutama bagaimana mengaturnya dalam pandangan Islam.


Nah, berikut ringkasan KulWA bareng Cilukba yang menghadirkan Dr Laily Dwi Arsyianti (Pengisi rubrik konsultasi keuangan Majalah Hadila) dengan tema "Mengatur Keuangan Keluarga Saat Kondisi Krisis dan dan Ramadhan". Saya rubah atau tambah sebagian tanpa mengurangi inti KulWA

Bagi yang belum tahu Majalah Hadila, majalah ini merupakan majalah keluarga muslim yang dibagikan secara gratis. Bagi yang ingin mendapatkannya silakan klik disini 


Cara Mengatur Keuangan Keluarga Saat Ramadhan di Tengah  Wabah Corona


Prioritas ini terasa menjadi lebih penting di masa sekarang, menjelang Ramadan dan masa pandemi. Dalam berbagai situasi dan kondisi, prioritas yang dibangun terdiri dari 4 poin secara berurutan:

  1. Charity (Bersedekah)
  2. Debt (Membayar utang dan tagihan)
  3. Investment (Investasi)
  4. Consumption (Konsumsi pribadi dan keluarga)


Yuk, kita bahas satu persatu mulai dari awal


1. Bersedekah


Bentuk umum dari memberikan sesuatu atau berbagi kepada orang lain. Jika bentuknya materi, namanya infak. Ada pula sedekah dalam bentuk non materi, seperti senyuman.

Prioritas pertama ini sangat terasa di bulan Ramadan. Porsi sedekah diperbesar, karena kita semua sangat mengharapkan keberkahan Ramadan. Infak untuk orangtua ditambah, pembelian bahan makanan ditambah karena ingin berbagi dengan yang lain.

Sebagaimana Allah sampaikan dalam QS 2:276 bahwa Allah akan menyuburkan sedekah dibandingkan dengan praktik riba yang akan Allah lenyapkan. 

Sedekah, diterangkan Allah dalam QS 3:133-134, dilakukan baik dalam waktu luang dan sempit, Allah bisa mendatangkan rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Besarannya tidak ditentukan, karena Rp 2000 bagi yg bergaji Rp 100.000 adalah besar. Yang penting, jangan sampai kita tidak bersedekah, prioritaskan meski 'sedikit'.

Di masa sekarang, untuk melakukan sedekah pun caranya cukup mudah dan bisa mulai dari donasi dengan nominal yang kecil. Beberapa waktu lalu saya melihat di akun media sosial Solopeduli -sebuah lembaga amil zakat resmi di Kota Solo- memunculkan program donasi mulai Rp. 1000,- untuk membantu warga terdampak covid-19. Berikut imagenya jika ingin mencoba berdonasi


0857-4087-7041 donasi zakat infak sedekah wakaf di solopeduli


Untuk berdonasi pun cukup mudah, bisa dilakukan darimana saja asalkan mempunyai akun di dompet digital. Orang yang tertarik berdonasi hanya cukup scan QR code yang ada, memasukkan nominal, maka donasi sudah terkirim. Sangat simpel bukan? 


2. Membayar utang dan tagihan


Paling tidak, setiap bulan kita mempunyai tagihan air, listrik pascabayar, ataupun gas, jika tidak punya utang barang lainnya. Membayar utang harus didahulukan sebelum berinvestasi dan menyisihkan konsumsi untuk diri dan keluarga, karena utang tidak hilang hingga seseorang meninggal dunia, bahkan 'diwariskan' kepada anak cucunya.

Ketentuan bermuamalah dengan tidak tunai diterangkan oleh Allah dalam QS 2:282. Ayat ini merupakan ayat terpanjang dalam al-Quran. 

Hal ini berarti Allah sangat memperhatikan kompleksitas dan kerincian utang. Muamalah yg melibatkan berbagai pihak: pemberi utang, pengutang, saksi, dan pencatatnya.

Secara teori perencanaan keuangan, porsi utang dan tagihan dalam porsi pendapatan kita adalah sebesar maksimum sepertiganya. Artinya, jika penghasilan kita 3 juta, maka maksimum utang kita sebesar 1 juta per bulannya.

Namun, utang ini menjadi alternatif terakhir. Malah yang diatur terlebih dahulu dalam QS 2:245 adalah kita memberikan pinjaman kebaikan, bukan meminta pinjaman. Termasuk jika 'kebutuhan' Ramadan meningkat, ingatlah jangan sampai kita berutang untuk memenuhi keinginan konsumtif, melainkan boleh jika untuk kebutuhan berproduktif.


3. Investasi


Berbagai riset menyatakan, di Indonesia, penghasilan para penduduknya meningkat di antara Rajab, Sya'ban, Ramadan dan Syawal. Ini berlaku bagi berbagai profesi. Pengusaha maupun pegawai negeri. Pedagang maupun petani. Inflasi (harga-harga meningkat) tertinggi pun terjadi di bulan-bulan ini.

Inilah kesempatan kita untuk menyisihkan lebih banyak untuk pos investasi kita. Terutama investasi untuk anak-anak kita. Untuk generasi yang akan datang. Investasi yang utama adalah untuk pendidikan mereka. Pisahkan akun investasi dengan akun lainnya seperti akun kebutuhan darurat dan akun untuk kebutuhan harian. 

Akun investasi sebaiknya tidak mudah dijangkau/diambil/ditarik, tidak memiliki ATM, dan tidak didaftarkan pada mobile banking. Namun, pada saat dibutuhkan, akun ini mudah untuk dijangkau. Artinya, perlu perencanaan untuk membuat akun ini.

Ada berbagai pilihan investasi, yang penting harus sesuai syariah. Investasi pendidikan diantaranya:

  • Tabungan berjangka. Biasanya telah ditetapkan kapan dapat diambil setelah menabung secara reguler. Kita bisa _standing instruction_ ke lembaga keuangan tsb untuk langsung mengurangi dari rekening kita tanpa perlu datang ke kantornya.
  • Deposito. Jika kita telah memiliki sejumlah uang yang cukup untuk didepositokan, kita dapat langsung investasikan.
  • Asuransi pendidikan syariah yang mirip seperti tabungan pendidikan. Biasanya ditawarkan utk jangka waktu maksimum 12 tahun (6 tahun pendidikan dasar, 3 tahun menengah, 3 tahun mengah atas)
  • Tabungan pendidikan khusus mirip seperti asuransi pendidikan syariah.


Dan lainnya yang memungkinkan seperti sukuk tabungan, saham dan reksadana.

4. Konsumsi untuk kita dan keluarga.


Konsumsi selalu diletakkan di prioritas akhir dan sedekah di prioritas awal. Hal ini untuk mengingatkan kita untuk memprioritaskan memberi dibandingkan menerima, memprioritaskan membagi dibanding meminta, membiasakan aktif produktif dibanding pasif konsumtif.

Porsi konsumsi sebaiknya memang sisa-sisa dari ketiga prioritas sebelumnya.

Prioritas ini sangat terasa di masa sekarang, dimana ketika semua orang terjatuh, tidak akan pernah ada yang bangkit jika semua menunggu uluran tangan, dan kebangkitan bersama akan lebih cepat jika semua bangkit dan mengulurkan tangan.

Demikian artikel Cara Mengatur Keuangan Keluarga Saat Ramadhan di Tengah Wabah Corona. Semoga bermanfaat

2 komentar untuk "Cara Mengatur Keuangan Keluarga Saat Ramadhan di Tengah Wabah Corona"

Faisal mengatakan…
Penting sekali informasi di atas, soalnya kalau salah atur uang, bisa-bisa harus nahan lapar
Admin mengatakan…
Terimakasih gan Faisal sudah berkunjung. Semoga bermanfaat

Berlangganan via Email