Cara Membuat Eco Enzyme dengan Memanfaatkan Sampah Organik Dapur

Cara Membuat Eco Enzyme dengan Memanfaatkan Sampah Organik Dapur
Cara membuat Eco Enzyme - Apa itu eco enzyme? Eco enzyme (EE) adalah cairan yang didapat dari fermentasi sampah dapur. Nama lain Eco Enzyme adalah Garbage Enzymes (GE). Cairan ini berwarna coklat dan memiliki bau hasil fermentasi. Cairan Eco Enzyme ini dapat digunakan sebagai pengganti detergen, sabun, sampo, dan cairan pembersih lantai. Dapat juga digunakan pada pertanian misalnya sebagai pupuk organik.

Eco enzyme pertama kali dikenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan founder Asosiasi Pertanian Organik (Organic Agriculture Association) dari Thailand. Dr. Rosukon selama lebih dari 30 tahun telah melakukan penelitian tentang enzim dan dia mendorong orang untuk membuat eco enzyme di rumah dalam rangka mengurangi global warming

Beliau menerima penghargaan dari FAO PBB atas penemuannya tersebut. Dr. Joean Oon, Director of the Centre for Naturopathy and Protection of Families in Penang (Malaysia), kemudian membantu untuk menyebar luaskan segudang manfaat dari Eco-enzyme ini.

Nah, bagaimana cara membuat Eco enzyme ini? Berikut adalah cara membuat eco enzyme sudah dipraktekkan oleh pemilik akun Facebook Beta Al Chasana. Tulisan saya lengkapi dengan referensi dari artikel di ludipemi.com yang membahas tentang eco enzyme

eco enzyme
Eco Enzyme (image by lupidemi.com)


Cara Membuat Eco Enzyme


Bahan:


  • 300 gr kulit nanas
  • 100 gr gula merah (molase)
  • 1000 ml air.


NB:

  1. Diatas menggunakan kulit nanas. Jika ingin mencoba bisa menggunakan sampah organik sayuran atau kulit buah segar. Jangan yang sudah busuk, berjamur atau terkena minyak.
  2. Diatas menggunakan gula merah. Bisa diganti dengan gula coklat atau gula aren
  3. Untuk air lebih baik menggunakan air sumur, bukan air PDAM, karena air PDAM mengandung kaporit. Jika ingin menggunakan air pipa (PDAM) harus diendapkan dulu selama 3 hari


Cara Membuat: 

  1. Semua bahan dicampur jadi satu dan dimasukkan dalam wadah tertutup. Perbandingannya adalah 1:3:10 = molase : sampah organik : air
  2. Setiap hari di bulan pertama, tutup wadah harus dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses fermentasi. Membuka tutupnya cukup 3 - 5 detik, setelah itu dikencangkan lagi. Gas yang dihasilkan adalah gas NO3 dan CO3 yang konon kabarnya sangat bermanfaat untuk memperbaiki kondisi Ozon di atmosfir bumi. Sehingga berperan positif dalam mengurangi efek rumah kaca atau pemanasan global (Global Warming).
  3. Setelah 3 bulan, cairan ecoenzyme bisa dipanen dan dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Misalnya untuk campuran sabun pencuci piring, untuk campuran sabun detergen pencuci baju, untuk campuran cairan pembersih lantai, untuk campuran air penyiram tanaman/berfungsi sebagai pupuk, bahkan untuk desinfektan (mencuci buah , sayur atau tangan) serta untuk menghilangkan bau membandel.


NB:

  1. Gunakan botol yang kapasitasnya lebih besar dari Eco enzyme yang dibuat, agar ada ruang udara. 
  2. Usahakan botol terisi 3/4 nya. Jangan penuh. 
  3. Letakkan di tempat yang sejuk dengan ventilasi baik, jangan terkena sinar matahari langsung.
  4. Larutan ini tidak memiliki waktu kadaluwarsa. Sisa organik dapat dimasukkan ke dalam komposter, dijadikan pupuk, atau digunakan untuk fermentasi kembali.


Saatnya lebih bijak dalam memanfaatkan sampah organik di sekitar kita. Buat ibu ibu, yang paling mudah adalah sampah dapur. Jadi meski hanya seorang Ibu Rumah Tangga, namun bisa ikut berperan besar dalam menjaga lingkungan dan bumi tempat kita tinggal.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel